Sabtu, 19 November 2011

15 November

Aku lupa kapan terakhir kali merayakannya. Jika bulan telah mencapai november dan berada tepat pada pertengahannya. Itulah saat dimana usiaku bertambah, dan jatah hidup semakin kurang.

Namun aku tidak terlalu menganggapnya luar biasa. Tidak perlu ada selebrasi atau perayaan khusus. Aku tak pernah menganggap hari lahirku sebagai hari yang benar2 berbeda. Kecuali dua hal, sebagai evaluasi perjalanan hidup dan pengingat bahwa kesempatan berbuat semakin sedikit.

Aku tak berharap bahwa akan banyak orang yang mengucap selamat Ataupun memberikan hadiah, atau kejutan kue ulang tahun.

Sejak kecil Ayah Ibu mendidikku sederhana, tidak memberikanku kado saat ulang tahun. Atau membuat acara syukuran, walau sekalipun. Bukan tidak mau memberi atau tidak perhatian, Namun hari2 yang kulalui bersama mereka bukankah itu pemberian dan perhatian yg terbaik?

Namun, tepat di 22 tahun ini. Atas segala napak tilas hidupku. Aku harus mengakui bahwa momentum hari lahirku ini menjadi momentum yang penting.

Untuk segala pencapaian, pengalaman dan pelajaran berharga yang menghiasi hidupku. Sistematika berfikir, logika hidup dan asas manfaat yang terbangun. 15 November kali ini tak ubahnya adalah satu titik poin terpenting dalam hidupku.

Dua per tiga hidup telah terlewat. Bukan tentang ulang tahunnya. Namun tentang apa yang telah kuperbuat dan apa yang akan kuperbuat kedepannya.

Aku harus mampu membongkar cara berpikir atau sudut pandang yang lama. Memodifikasinya sedemikian rupa. Hingga tercipta sebuah formulasi baru.
Aku menamakannya vitalitas. Sebuah semangat juang, atas manifestasi ide. Vitalitas, menemukan kenyataan bahwa hidup adalah tribulasi mimpi.

Satu dua tiga mimpi. Empat lima enam tribulasi. Tujuh delapan sembilan tribulasi mimpi. Dan sepuluh adalah vitalitas. Poin tertingginya adalah sepuluh. Dan aku harus mampu melewati poin demi poinnya demi menuju poin tertinggi.

Tak bisa dipungkiri, adalah kebahagiaan saat orang terkasih kita, mengingat momentum atau hari penting kita. Namun sekali lagi, aku takkan mengambil pusing hanya karena orang lupa tentang itu.

Bukan tentang orang mengingat momentum penting kita, namun tentang seberapa banyak kita mampu menghadirkan momentum penting bagi orang lain.

"Terimakasih untuknya sebagai orang pertama yang mengucap selamat dan doa. untuk Bule' warung nusantara atas harapannya. Terimakasih utk seorang sahabat atas kue Tartnya"

18-11-2011