Aku tak habis pikir. Mengapa
media sebesar Metro Tv bisa memberitakan blunder seperti itu, mengatakan
bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang bergerak di masjid-masjid sekolah
(rohis, red) adalah cikal bakal lahirnya gerakan teroris. "Teroris muda"
mereka membahasakannya. Benarkah? apa karyawan di Metro Tv gak ada yang
punya pengalaman ikut kegiatan rohis ya? kesian...
Dan sontak ramai berita teroris muda itu. pikiranku melayang jauh 5-6 tahun lalu, saat aku masih berkecimpung di dunia kerohanian islam (rohis) SMA. aku berusaha mengingat-ngingat dua tahun lebihku di rohis, bagian mana yang mengajarkan atau mendidikku untuk menjadi teroris muda. kalau ingin jadi "Mujahid Muda" itu baru bener. teroris dan mujahid itu kan jauh beda, beda banget. Mujahid itu mulia banget. Dan mujahid muda itu ada lagunya lho. keren, aku dan teman2 sering menyanyikannya.. walau kadang2 kepeleset lidah dari hai mujahid muda jadi hai mujahidahku, itu sih temen2 lho ya.. duuh ngomong apa ini.
Aku kembali mengingat-ngingat memori itu. saat aku duduk di kelas 1 SMA. saat masih polos-polosnya. kakak kelasku yang jumlahnya sedikit itu getol banget ngajak aku dan teman2 ke mushola Sekolah untuk ikut kegiatan rohis. salah satunya kakak Sofyan. orangnya gimana2 gitu Perawakannya kurus, wajah tirus, rambutnya 'agak' lurus, joke-nya pasti jayus, tapi tilawahnya subhanalloh baguuuus. ngebet banget beliau supaya aku dan teman-teman bisa masuk rohis. ngebet pakai banget. usahanya luar biasa. "kayak orang lg ngejar jodohnya gitu -iklan lewat-" kita-kita sering di datangin, sering di anterin, sering di ajak makan (walau akhirnya bss) macam2 dah usahanya.
Aku juga teringat masih di kelas 1, setiap jumat atau sabtu siang sepulang sekolah ada pengajian rutin untuk anak2 kelas 1. pengajiannya rutin, aku juga datangnya rutin. sampai kadang2 sebelum pengajian mampir sebentar ke rental pe es. maunya sebentar, duh jadi kebablasan. hehe. tapi ini jarang kok. jangan di contoh. nah kembali lagi, di pengajian itu yang ngisi namanya kakak yasin, temen2 biasa menyebutnya ustad Yasin. orangnya masih muda, bersemangat, tawadhu, rendah diri, santun, subhanalloh. gak pernah lihat sekalipun beliau marah ataupun emosi. kalau bicara meneduhkan sekali. materi yang disampaikan ringan tapi berbobot. yang semuanya bermuara untuk mengajak bertaqwa kepada Allah. gak ada itu ngajar2in jadi teroris. tapi ada yang aneh pada beliau, ketika mulai mengisi pengajian kulihat pakaiannya penuh dengan keringat. seperti habis melakukan pekerjaan yang berat. jauh setelah hari-hari itu ada yang bercerita padaku, bahwa untuk menuju ke mushola sekolah untuk mengisi pengajian beliau terbiasa berjalan kaki. jarak tempuhnya lebih 4 km. wah jauh banget. kurang ngerti kenapa beliau gak bawa kendaraan atau naik angkot. padahal waktunya itu di tengah siang terik mentari. tapi seperti itulah beliau, sederhana dengan semangat yang meluap-luap. Subhanalloh..
Aku mengingat-ngingat lagi. dari kelas 1 hingga kelas 3 dan sampai lulusan. apakah ada hal yang pernah diajarkan di rohis untuk mendidik temen2 menjadi teroris. namun semakin kuingat semakin takku temui memori itu. karena memang tidak pernah terjadi hal itu. hanya kenangan yang indah dan baik yang terpatri jelas dalam ingatanku. ingatan tentang persahabatan, tentang keimanan, tentang perjuangan, tentang keterbatasan, tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang ketulusan, tentang kebaikan, tentang pembelajaran, tentang mimpi, tentang hidup, tentang berbagi. Subhanalloh bersyukur menjadi anak rohis. Karena bukan tentang sudah baik, namun berproses menjadi baik. itulah rohis yang ada di ingatanku.
Aku anak rohis dan aku memang manis
*kesasar di warnet dan iseng2 nulis*
Dan sontak ramai berita teroris muda itu. pikiranku melayang jauh 5-6 tahun lalu, saat aku masih berkecimpung di dunia kerohanian islam (rohis) SMA. aku berusaha mengingat-ngingat dua tahun lebihku di rohis, bagian mana yang mengajarkan atau mendidikku untuk menjadi teroris muda. kalau ingin jadi "Mujahid Muda" itu baru bener. teroris dan mujahid itu kan jauh beda, beda banget. Mujahid itu mulia banget. Dan mujahid muda itu ada lagunya lho. keren, aku dan teman2 sering menyanyikannya.. walau kadang2 kepeleset lidah dari hai mujahid muda jadi hai mujahidahku, itu sih temen2 lho ya.. duuh ngomong apa ini.
Aku kembali mengingat-ngingat memori itu. saat aku duduk di kelas 1 SMA. saat masih polos-polosnya. kakak kelasku yang jumlahnya sedikit itu getol banget ngajak aku dan teman2 ke mushola Sekolah untuk ikut kegiatan rohis. salah satunya kakak Sofyan. orangnya gimana2 gitu Perawakannya kurus, wajah tirus, rambutnya 'agak' lurus, joke-nya pasti jayus, tapi tilawahnya subhanalloh baguuuus. ngebet banget beliau supaya aku dan teman-teman bisa masuk rohis. ngebet pakai banget. usahanya luar biasa. "kayak orang lg ngejar jodohnya gitu -iklan lewat-" kita-kita sering di datangin, sering di anterin, sering di ajak makan (walau akhirnya bss) macam2 dah usahanya.
Aku juga teringat masih di kelas 1, setiap jumat atau sabtu siang sepulang sekolah ada pengajian rutin untuk anak2 kelas 1. pengajiannya rutin, aku juga datangnya rutin. sampai kadang2 sebelum pengajian mampir sebentar ke rental pe es. maunya sebentar, duh jadi kebablasan. hehe. tapi ini jarang kok. jangan di contoh. nah kembali lagi, di pengajian itu yang ngisi namanya kakak yasin, temen2 biasa menyebutnya ustad Yasin. orangnya masih muda, bersemangat, tawadhu, rendah diri, santun, subhanalloh. gak pernah lihat sekalipun beliau marah ataupun emosi. kalau bicara meneduhkan sekali. materi yang disampaikan ringan tapi berbobot. yang semuanya bermuara untuk mengajak bertaqwa kepada Allah. gak ada itu ngajar2in jadi teroris. tapi ada yang aneh pada beliau, ketika mulai mengisi pengajian kulihat pakaiannya penuh dengan keringat. seperti habis melakukan pekerjaan yang berat. jauh setelah hari-hari itu ada yang bercerita padaku, bahwa untuk menuju ke mushola sekolah untuk mengisi pengajian beliau terbiasa berjalan kaki. jarak tempuhnya lebih 4 km. wah jauh banget. kurang ngerti kenapa beliau gak bawa kendaraan atau naik angkot. padahal waktunya itu di tengah siang terik mentari. tapi seperti itulah beliau, sederhana dengan semangat yang meluap-luap. Subhanalloh..
Aku mengingat-ngingat lagi. dari kelas 1 hingga kelas 3 dan sampai lulusan. apakah ada hal yang pernah diajarkan di rohis untuk mendidik temen2 menjadi teroris. namun semakin kuingat semakin takku temui memori itu. karena memang tidak pernah terjadi hal itu. hanya kenangan yang indah dan baik yang terpatri jelas dalam ingatanku. ingatan tentang persahabatan, tentang keimanan, tentang perjuangan, tentang keterbatasan, tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang ketulusan, tentang kebaikan, tentang pembelajaran, tentang mimpi, tentang hidup, tentang berbagi. Subhanalloh bersyukur menjadi anak rohis. Karena bukan tentang sudah baik, namun berproses menjadi baik. itulah rohis yang ada di ingatanku.
Aku anak rohis dan aku memang manis
*kesasar di warnet dan iseng2 nulis*