Rabu, 19 September 2012

Aku Anak Rohis

Aku tak habis pikir. Mengapa media sebesar Metro Tv bisa memberitakan blunder seperti itu, mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang bergerak di masjid-masjid sekolah (rohis, red) adalah cikal bakal lahirnya gerakan teroris. "Teroris muda" mereka membahasakannya. Benarkah? apa karyawan di Metro Tv gak ada yang punya pengalaman ikut kegiatan rohis ya? kesian...

Dan sontak ramai berita teroris muda itu. pikiranku melayang jauh 5-6 tahun lalu, saat aku masih berkecimpung di dunia kerohanian islam (rohis) SMA. aku berusaha mengingat-ngingat dua tahun lebihku di rohis, bagian mana yang mengajarkan atau mendidikku untuk menjadi teroris muda. kalau  ingin jadi "Mujahid Muda" itu baru bener. teroris dan mujahid itu kan jauh beda, beda banget. Mujahid itu mulia banget. Dan mujahid muda itu ada lagunya lho. keren, aku dan teman2 sering menyanyikannya.. walau kadang2 kepeleset lidah dari hai mujahid muda jadi hai mujahidahku, itu sih temen2 lho ya.. duuh ngomong apa ini.

Aku kembali mengingat-ngingat memori itu. saat aku duduk di kelas 1 SMA. saat masih polos-polosnya. kakak kelasku yang jumlahnya sedikit itu getol banget ngajak aku dan teman2 ke mushola Sekolah untuk ikut kegiatan rohis. salah satunya kakak Sofyan. orangnya gimana2 gitu Perawakannya kurus, wajah tirus, rambutnya 'agak' lurus, joke-nya pasti jayus, tapi tilawahnya subhanalloh baguuuus. ngebet banget beliau supaya aku dan teman-teman bisa masuk rohis. ngebet pakai banget. usahanya luar biasa. "kayak orang lg ngejar jodohnya gitu -iklan lewat-" kita-kita sering di datangin, sering di anterin, sering di ajak makan (walau akhirnya bss) macam2 dah usahanya.

Aku juga teringat masih di kelas 1, setiap jumat atau sabtu siang sepulang sekolah ada pengajian rutin untuk anak2 kelas 1. pengajiannya rutin, aku juga datangnya rutin. sampai kadang2 sebelum pengajian mampir sebentar ke rental pe es. maunya sebentar, duh jadi kebablasan. hehe. tapi ini jarang kok. jangan di contoh. nah kembali lagi, di pengajian itu yang ngisi namanya kakak yasin, temen2 biasa menyebutnya ustad Yasin. orangnya masih muda, bersemangat, tawadhu, rendah diri, santun, subhanalloh. gak pernah lihat sekalipun beliau marah ataupun emosi. kalau bicara meneduhkan sekali. materi yang disampaikan ringan tapi berbobot. yang semuanya bermuara untuk mengajak bertaqwa kepada Allah. gak ada itu ngajar2in jadi teroris. tapi ada yang aneh pada beliau, ketika mulai mengisi pengajian kulihat pakaiannya penuh dengan keringat. seperti habis melakukan pekerjaan yang berat. jauh setelah hari-hari itu ada yang bercerita padaku, bahwa untuk menuju ke mushola sekolah untuk mengisi pengajian beliau terbiasa berjalan kaki. jarak tempuhnya lebih 4 km. wah jauh banget. kurang ngerti kenapa beliau gak bawa kendaraan atau naik angkot. padahal waktunya itu di tengah siang terik mentari. tapi seperti itulah beliau, sederhana dengan semangat yang meluap-luap. Subhanalloh..

Aku mengingat-ngingat lagi. dari kelas 1 hingga kelas 3 dan sampai lulusan. apakah ada hal yang pernah diajarkan di rohis untuk mendidik temen2 menjadi teroris. namun semakin kuingat semakin takku temui memori itu. karena memang tidak pernah terjadi hal itu. hanya kenangan yang indah dan baik yang terpatri jelas dalam ingatanku. ingatan tentang persahabatan, tentang keimanan, tentang perjuangan, tentang keterbatasan, tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang ketulusan, tentang kebaikan, tentang pembelajaran, tentang mimpi, tentang hidup, tentang berbagi. Subhanalloh bersyukur menjadi anak rohis. Karena bukan tentang sudah baik, namun berproses menjadi baik. itulah rohis yang ada di ingatanku.

Aku anak rohis dan aku memang manis
*kesasar di warnet dan iseng2 nulis*

Kamis, 21 Juni 2012

Di Ujung Jalan

di ujung jalan itu
kau dan aku pasti bertemu
kau buat langkahmu
aku pastikan langkahku
kerikil dan batu
hanyalah penghalang semu
biarlah deru dan debu
hiraukan lelah yang mendekapmu

di ujung jalan itu
kau dan aku tahu
hidup tak menjanjikan indah selalu
tapi bahagia mampukan menyatu
jika derap langkahmu
tetap setia pada waktu
jika keras usahamu
tetap setangguh bahumu

hilangkan segala ragu
di ujung jalan itu
kau dan aku akan bertemu

Rabu, 20 Juni 2012

Pernah Berharap

Pernahku berharap
Pada bulan terang benderang
Pada cahyanya yang membawa keteduhan
Syak menyentuh relung terdalam

Pernahku berharap
Pada bintang gemintang di langit
Pada kerlap-kerlip keindahan
Yang meninggalkan sebongkah harapan

Pernahku berharap
Pada deras hujan turun
Pada Air mengaliri kesejukan
Hingga dinding-dinding jiwa berpendar

Pernahku berharap..
Pernahku berharap..

Jumat, 15 Juni 2012

Regenari Kepemimpinan Pemuda

"Perjuangan Penghabisan, Bangkit dan Melawan.. dan internationale Pasti di Dunia"

103 tahun kebangkitan nasional. Apa yang dapat kita maknai? Saat itu 20 mei 1908.  pemuda-pelajar-mahasiswa yang terkumpul dalam lembaga pendidikan STOVIA, mendirikan sebuah organisasi modern boedi utomo. wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan kaum  intelektual saat itu. terlepas dari primordialisme Boedi Utomo yang lebih menampilkan ke-jawa-annya.

Tujuan Boedi Utomo saat itu sederhana, mendorong kemajuan yang selaras untuk negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Dalam literature lain, kita mendapati seorang Hatta muda yang ketika itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, dan untuk  mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, kembali merubah namamya menjadi Perhimpunan Indonesia, pada tahun 1925.

Kalaulah dua organisasi di atas lebih mengutamakan pendekatan politik dalam pergerakannya. Maka kelahiran Sarekat Islam (sebelumnya bernama Sarekat dagang islam) tahun 1905 memberikan warna dan inspirasi baru terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. SI mengawali pergerakannya dengan mendorong kemandirian ekonomi anggotanya. Lebih luas masyarakat Indonesia. Kemudian menyentuh ranah politik. Heterogen dan mengesampingkan isu kedaerahan. Dalam tulisan di majalah Sabili, diyakini bahwa Sarekat Islam adalah organisasi modern pertama yang lahir.

Kawan sekalian, dalam tulisan ini saya tidak ingin memperdebatkan manakah organisasi dulu yang telah lahir dan siapa yang lebih hebat. Namun satu yang niscaya bahwa tiga organisasi di atas telah memberikan inspirasi dan harapan bagi kebangkitan dan kedaulatan rakyat Indonesia ketika itu. Saat kaum kolonialisme belanda bercokol di bumi pertiwi. Lahir generasi-generasi muda yang bekerja keras mendorong kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan.

lalu bagaimana sikap kita setelah membaca sejarah tersebut?kagum, eforia sesaat atau mungkin tidak berpengaruh apa-apa.

Kawan, saya ingin memberikan dua analisis terhadap konteks yang terjadi saat lampau dan sekarang
1.     Organisasi yang lahir di atas adalah organisasi yang memang di inisiasi dan digerakkan oleh orang-orang muda. Khususnya pelajar dan mahasiswa. Kaum intelektual yang secara sadar bergerak atas kondisi zaman yang membutuhkan mereka. Bagaimana dengan sekarang? Kita akan menemukan orang-orang yang mengaku masih muda dan selalu menampilkan dirinya masih muda. Dan mengaku-ngaku telah banyak berkontribusi untuk negri tercinta ini. Padahal kalau boleh jujur usia mereka sudah beranjak tua.dengan kontribusi yang dipertanyakan.

2.     Apa yang kemudian membuat sebuah organisasi bertahan sekian lama dan terus memberikan kontribusi untuk di sekitarnya. Jawabannya adalah kemampuan orang-orang di dalam organisasi tersebut dalam menjaga cita-cita perjuangan yang telah di gariskan di awal pembentukan organisasi tersebut. Katakanlah beroriensati kepada asas manfaat bersama, rakyat. Bukan yang lain. Inilah kemudian yang membuat organisasi-organisasi di atas mampu tampil dalam pentas sejarah Indonesia. Menggoreskan tinta peradaban dan menyejarah. Bagaimana dengan konteks sekarang? Kita akan menemukan sebuah kenyataan sebagian organisasi yang disorientasi. Disaat kepentingan politis telah masuk dalam organisasi tertentu. Maka indepedensi organisasi tersebut dipertanyakan.

Maka kawan, dua hal yang harus kita dorong agar momentum kebangkitan nasional yang telah berlalu ini tidak  sekedar euphoria belaka
1.     Pemuda saat ini harus menyadari sepenuhnya bahwa pemuda telah digariskan sebagai generasi penentu sejarah. Bagaimana dapat dikatakan sebagai generasi penentu sejarah? Jawabnya sederhana dengan bergerak dan berkontribusi. Memberikan persembahan terbaik bagi ibu pertiwi. Jasad, pikiran, harta, bahkan nyawa. Maka kemudian pemuda saat ini haruslah berani tampil percaya diri di muka umum. Tidak bergantung kepada kaum tua. Dan kaum tua memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kaum muda.

2.     Pemuda dengan segala idealisme yang di usung adalah idealime yang berorientasi kepada rakyat. Rakyat Indonesia kebanyakan. Bukan atas sebuah kepentingan tertentu, golongan, atau lain sebagainya. Pemuda harus memainkan politik yang bermartabat, politik moral. Politik yang semangat dan bergeraknya adalah memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan rakyat Indonesia dan kedaulatan Negara Indonesia seutuhnya.

Akhirnya di setiap zaman terdapat ujiannya masing-masing. Dan disetiap zaman tersebut terdapat generasi penggeraknya. Mei ini akan segera berlalu. Tahun-tahun akan berubah dan terus meyakini bahwa regenerasi kepemimpinan pemuda akan terus berjalan.

Dimas Prasetya
“bahwa perubahan adalah niscaya bagi orang yang yakin dan percaya”
10:38 PM 24/05/2011