“Di siang itu aku menyaksikan air mata yang tertumpah, pelukan akan kerinduan yang begitu mendalam, dan sebuah harapan dalam sinar tatapan. Siang itu aku menyaksikan sebuah episode kehidupan”
perempuan itu tak mampu menahan deras air matanya, kala keluarganya hadir untuk menjenguknya. Membawakan kue Blackforest sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh dikeesokan harinya. Namun karena esoknya tak memungkinkan keluarganya untuk datang. Maka hari itulah menjadi sebuah hari bersejarah bagi perempuan itu dan keluarganya. Melewatkan hari bahagia tidak seperti biasanya. Merayakan ulang tahun sang perempuan di sebuah sekolah, sekolah yang tak biasa. Yaitu sekolah kehidupan. Di sekolah kehidupan itulah, telah memaksa kebahagian mereka sementara tertahankan.
Tuhan menguji kita, menguji dimana titik terlemah kita. Tuhan akan selalu menguji kita, pasti dan pasti. Seorang keluarganya, perempuan paruh baya itu menatap sang perempuan, seolah-olah mengatakan itu dalam pandangan sejuknya. Bertambahlah air mata jatuh. Perempuan itu mengalami perasaan yang sedemikian bergejolak. Perasaan sedihnya yang mendalam akan nasibnya kini, bersekolah ditempat yang seharusnya bukan untuk ia. Tapi untuk orang-orang diatasnya yang telah kehilangan hati nurani dan tak tahu diri.
Biar, biarkan kebenaran itu akan tersingkap siapa yang sesungguhnya salah dan benar. Kalau lah bukan di perhitungan dunia. Maka perhitungan akhirat akan menanti. Sebuah monolog menari-nari dipikiran sang perempuan di siang itu.
Bagaimana mungkin, seorang kawannya yang juga seharusnya berada di sekolah kehidupan bersamanya. Telah lama bisa menghirup udara bebas dan bepergian kemana pun sesuka hatinya. Usut punya usut. Ternyata beberapa lembar rupiah telah mengubah segalanya. Rupiah telah menutup mata, rupiah menggelapkan hati. Seolah-olah rupiahlah Tuhan yang menentukan segalanya. Biadab..
Salah menjadi benar. Benar menjadi salah. Semua menjadi absurd saat berhadapan dengan rupiah. Siapa yang salah, siapa yang benar? Semua menjadi absurd kembali saat berhadapan dengan uang
Sesak dada melihat kenyataan itu namun kehidupan dunia telah mengajarkan. Tidak akan ada kehidupan tanpa ujian, kesedihan dan kehilangan. Sebagai konsekuensi atas kebahagiaan, kenikmatan dan kelapangan yang diterima
Bell kedua telah berbunyi, tanda pengunjung harus benar-benar meninggalkan sekolah itu. Sekolah kehidupan.
Tampak perempuan itu kembali berpelukan dengan keluargnya sebelum benar-benar berpisah. Tak henti-hentinya keluarga sang perempuan memotivasi.
Tetap sabar dan kuat. Berdoa dan serahkan semuanya kepada Allah. Biarkan Allah sebaik-baik pemberi keputusan. Siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang bahagia, dan siapa yang harus dihukum derita.
Senja di Balikpapan
“belajar dari sekolah seseungguhnya”
18 09 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar