Tiga bulan lalu awal mula pertemuan saya dengan seorang pemuda, Saleh. Di warung kopi depan kost yang biasa saya singgahi. Saleh merupakan adek sang empunya warung, baru lulus SMA dan baru tiba dari Madura.
Singkat cerita saya sering mengajak Saleh diskusi saat bertemu di warung.Saya dapati usianya masih muda, hasrat melanjutkan sekolahpun sedemikian besar. Namun karena masalah dana, ia harus mengurungkan niatnya, setidaknya untuk saat-saat ini. Karena Itu pula yang membuatnya merantau jauh hingga Samarinda. Mencari pekerjaan layak sesuai lulusannya yang SMA, sambil berharap bisa kuliah untuk kedepannya.
"Kalau biaya kuliah itu berapa ya mas?tanya beliau suatu ketika.” "Biaya kuliah itu variatif, dari yang kurang satu juta sampai 10 juta tergantung Jurusannya. Namun bisa diusahakan, banyak beasiswa, paling penting diniatkan sungguh-sungguh untuk kuliah", kata saya sambil mencoba membesarkan hatinya. Disambut anggukan kepalanya dengan sebuah tarikan nafas panjang.
Karena memang niatan awal Saleh merantau adalah mencari kerja. Ia pun mencari kerja semampunya. Hingga akhirnya ia diterima sebagai Cleaning Service di sebuah mall. Disana ia diterima Bukan sebagai karyawan atau kontrakan, bisa dibilang buruh harian.
Upah bulan pertamanya tidak sampai 500rb. Banyak potongan sana-sini katanya. Tidak sepadan dengan pengeluaran sehari-harinya untuk makan di kantin saat kerja. Karena itu dia lebih memilih jalan kaki untuk pergi dan pulang ke tempat kerja, sekitar 4 Kilometer Jauhnya.
Saya terenyuh mendengar tuturnya. Untuk ukuran pemuda rajin sepertinya. Upah itu merupakan nominal yang cukup kecil. Namun, ia pantang mengeluh dan terus berusaha. "Saya kerjakan apa yg bisa saya kerjakan mas, yang penting pengalaman dulu", tuturnya.
Upah kecil, dengan pekerjaan yang membutuhkan mental kuat dan kesabaran. Saleh bercerita kerapkali saat ia membersihkan lantai yang masih basah, orang2 dengan cuek lewat di depannya sehingga lantai itu kotor kembali. Atau ketika kebetulan berdiri di depan toilet mall, Orang memberinya uang ribuan karena dikira penjaga toilet. Sampai pertanyaan retoris teman kerjanya, lulusan SMA kenapa menjadi Cleaning Service? Padahal ada yang lulusan SMP mendapat pekerjaan yang lebih baik, sebagai pelayan di restoran.
Namun Saleh tetap dalam keteguhannya. Bahwa yang terpenting adalah bekerja dulu, tanpa terpengaruh kata-kata disekitarnya. "Saya tidak pernah malu mas menjadi Cleaning Service, saya belajar banyak", katanya. Dan saya semakin takjub dengan pemuda sederhana ini.
Singgah ke warung setelah sekian lama tidak mampir karena beberapa kesibukan. Saya dapati Soleh kini lebih hitam dengan rambut cepak. "Saya sudah gak di Cleaning Service lagi mas, saya sekarang di Security mall tapi dibagian luar", kata beliau. Alhamdulillah dalam hati saya, setelah tiga bulan kerja, beliau mendapat tawaran kerja sebagai Security di mall yang sama. Pekerjaan lebih baik, dengan standar upah yang lebih baik.
Siang itu, diterik yang panas Saleh pun kembali berjalan kaki menuju tempat kerjanya. "Saya pamit dulu mas, shift siang", katanya. Belum genap 18 tahun dan Saleh sudah berusaha dengan luar biasa dengan segala keterbatasannya. Dan saya belajar banyak akan keteguhan sosoknya. Melihat perjuangan, memandang sorot mata dan mendengar Saleh bicara, saya menjadi yakin bahwa Saleh akan menjadi orang sukses. Kalau tidak dalam waktu dekat semoga suatu saat nanti. Semoga..
"Bahkan ditengah rutinitasnya sekarang, saya tidak yakin Saleh sempat membaca atau bahkan menemukan tulisan ini. Tidak biasa dengan internet, dan memang belum ada kesempatan untuk belajar internet”
11:22 AM 22/10/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar